66636960_10214697437536736_7310266944630816768_o-1200x1199.jpg
09/Jul/2019

KRAM PERUT

 

Kram perut atau nyeri perut sebenarnya tidak dapat disepelekan karena penyebabnya amat beragam. Penyebab nyeri perut secara garis besar dapat dibagi 2 yaitu nyeri yang berasal dari organ dalam perut, atau nyeri yang berasal dari tempat lain tetapi dirasakan di perut (referred pain).

Beberapa mekanisme penyebab kelainan organ dalam perut antara lain keradangan pada selaput dinding perut (peritoneum), sumbatan (obstruksi) pada organ berongga (saluran cerna, saluran kemih dan saluran empedu), gangguan pembuluh darah, ataupun kelainan pada dinding perut (otot, syaraf, dll),

 

Keradangan selaput dinding perut (peritoneum)

Nyeri akibat keradangan peritoneum mempunyai ciri semakin memberat dengan tekanan atau perubahan tegangan peritoneum, baik karena perabaan atau gerakan, seperti pada batuk atau bersin. Penderita umumnya lebih suka berbaring tenang dan menghindari gerakan, tidak seperti penderita kolik, yang cenderung gelisah dan tidak bisa tenang. Selain itu, nyeri lebih terlokalisir, seperti nyeri akibat keradangan usus buntu yang mengalami perforasi (kebocoran) dirasakan di perut bagian kanan bawah.

 

Sumbatan (obstruksi) organ berongga

Nyeri akibat obstruksi organ berongga sering hilang timbul, dapat bersifat kolik dan berciri khas tidak jelas lokasinya. Seperti nyeri akibat sumbatan pada usus halus bisa disekitar atau bawah pusar, tetapi penderita sering tidak dapat menunjukkan lokasi yang tepat, karena nyeri ini dapat menyebar sampai dengan pinggang. Hal yang sama juga dapat terjadi pada penderita dengan sumbatan pada usus besar, yang sering di bawah pusar tapi sering juga menyebar ke pinggang.

Sumbatan mendadak pada saluran empedu (biasanya karena batu empedu) umumnya dirasakan sebagai nyeri terus menerus dan tidak bersifat kolik, dirasakan di perut kanan atas dan menyebar sampai punggung sampai dengan dibawah tulang belikat.  Nyeri pada saluran pankreas sering dirasakan berkurang dengan menegakkan posisi tubuh.

Nyeri pada kandung kemih dirasakan sebagai nyeri tumpul di atas daerah kemaluan, karena intensitas nyerinya rendah sering tidak dirasakan oleh penderita. Penderita lebih sering mengeluh anyang-anyangen. Sumbatan yang berat pada kandung kemih dapat mengakibatkan nyeri yang semakin lama semakin memberat, dan membuat penderita semakin gelisah. Batu pada kandung kemih sering dirasakan sebagai nyeri pada buah zakar dan ujung kemaluan pada pria dan daerah paha bagian dalam pada wanita. Obstruksi pada saluran kemih lain sering dirasakan sebagai nyeri pada pinggang, yang menyebar sampai perut.

 

Gangguan dan kelainan pembuluh darah

Tidak seperti yang banyak dikira, tidak semua nyeri akibat kelainan pembuluh darah dalam perut timbul mendadak dan berat. Nyeri akibat emboli atau thrombosis pada arteri mesenterika superior atau rupture (pecah) aorta abdominalis memang berat dan menyebar, tetapi sumbatan pada arteri mesenterika superior juga dapat mengakibatkan nyeri tumpul selama 2 sampai 3 hari sebelum tiba-tiba gejala memberat. Nyeri perut yang menyebar pada daerah tulang ekor, pinggang atau kemaluan dapat menjadi tanda adanya aneurisma (pembesaran) pembuluh darah aorta yang mengalami rupture.

 

Nyeri pada dinding perut

Nyeri pada dinding perut sering dirasakan terus menerus, dan memberat dengan berdiri lama, dan bersin atau batuk. Pada perdarahan dalam otot dinding perut, yang terkadang didapatkan pada penderita yang menerima obat antikoagulan untuk mencegah pembekuan darah yang berlebihan, perdarahan dapat terkumpul di daerah bawah perut. Nyeri yang memberat dengan menggerakkan otot-otot perut dapat membedakan radang otot (myositis) pada dinding otot dengan kelainan pada organ dalam perut.

 

Referred Pain

Nyeri yang dirasakan pada perut dapat diakibatkan kelainan pada organ dada, contoh klasik adalah nyeri pada ulu hati pada penderita dengan penyakit koroner yang mengenai dinding bawah jantung. Sebaliknya kelainan pada organ dalam perut dapat menimbulkan gejala yang dirasakan di dada penderita, seperti pada radang akut kandung empedu (kolesistitis). Diperlukan pemeriksaan yang teliti dan menyeluruh untuk menegakkan diagnosis.

Adanya referred pain dapat disingkirkan dengan pemeriksaan fisik. Penekanan pada daerah yang nyeri tidak akan memperberat gejala pada referred pain. Nyeri akibat referred pain dari tulang belakang akibat kompresi atau penekanan pada akar serabut saraf sering diperberat dengan bersin, batuk, atau peregangan. Sedangkan referred pain akibat kelainan pada testis meningkat dengan menekan organ tersebut. Nyeri akibat referred pain sering dirasakan tumpul dan penderita tidak dapat melokalisir dengan tepat lokasinya.

 

Belum ada pemeriksaan lain yang dapat menggantikan pemeriksaan fisik dan anamnesis yang komprehensif. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi dapat membantu tetapi harus selalu ditunjang dengan pemeriksaan fisik dan anamnesis yang baik. Lokasi nyeri dapat membantu dalam menegakkan diagnosis.

 

Penulis: dr. Heru Wiyono, Sp.PD (penyakitdalam-internis.blogspot.com)


65592039_10214656611116101_7527634316063408128_o-1200x852.jpg
03/Jul/2019

 

Mata ikan, atau biasa dikenal dengan nama clavus, adalah penebalan kulit akibat tekanan dan gesekan yang terjadi berulang kali. Mata ikan biasanya berbentuk bulat berukuran lebih kecil dibanding kapalan, dan memiliki bagian tengah keras yang dikelilingi kulit yang meradang. Penebalan yang berlebihan pada bagian kulit yang berubah menjadi mata ikan juga bisa menimbulkan rasa nyeri. Bagian tubuh yang paling sering terkena mata ikan adalah kaki. Mata ikan lebih banyak menimpa wanita dibanding pria, karena wanita lebih sering menggunakan sepatu yang tertutup dengan ukuran yang tidak nyaman.

Penyebab dan Faktor Risiko Mata Ikan

Pada dasarnya, penyebab munculnya mata ikan adalah tekanan dan gesekan di area kulit yang sama berulang kali. Beberapa hal yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan dan gesekan tersebut adalah:

  • Pemakaian sepatu yang tidak nyaman. Sepatu yang terlalu sempit serta sepatu berhak tinggi bisa menekan beberapa bagian kaki. Sebaliknya, sepatu yang terlalu longgar pun dapat menyebabkan beberapa bagian kaki bergesekan berulang kali dengan bagian dalam sepatu.
  • Sering menggunakan peralatan atau bermain alat musik dengan tangan. Penebalan pada kulit bisa muncul akibat gesekan kulit tangan dengan sebuah instrumen musik atau perkakas tangan yang kita gunakan sehari-hari.
  • Tanpa kaus kaki. Tidak memakai kaus kaki atau memakai kaus kaki dengan ukuran yang tidak tepat bisa menyebabkan terjadinya gesekan antara kaki dengan alas kaki.
  • Perokok. Bagi orang yang merokok dan memakai pemantik api bisa memiliki mata ikan pada kulit jempol tangannya. Kondisi ini terjadi karena gesekan berulang pada saat menyalakan pemantik sebelum merokok.

Sedangkan di bawah ini adalah beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena mata ikan, yaitu:

  • Hammertoe. Kelainan atau cacat pada jari kaki yang bengkok dan berbentuk seperti cakar.
  • Tidak menggunakan sarung tangan. Menggunakan alat yang membutuhkan ketrampilan tangan terlalu lama tanpa mengenakan sarung tangan akan mengakibatkan kulit tangan bergesekan dengan alat kerja dan berisiko menyebabkan mata ikan.
  • Bunion. Kondisi di mana muncul penonjolan pada sendi pangkal jempol kaki yang terbentuk dari tulang.
  • Orang dengan kelainan kelenjar keringat.
  • Memiliki bekas luka atau kutil.
  • Kebiasaan berjalan dengan sisi dalam atau sisi luar kaki.

Gejala Mata Ikan

Mata ikan menimbulkan kelainan pada kulit, yaitu penebalan, pengerasan, serta penonjolan pada kulit. Kulit juga dapat menjadi bersisik, kering, atau berminyak. Mata ikan dapat menimbulkan rasa nyeri, terutama bila ditekan. Yang membedakan dengan kapalan adalah timbulnya peradangan dan rasa nyeri pada mata ikan.

Diagnosis Mata Ikan

Berikut ini adalah dua cara untuk mendiagnosis mata ikan, yaitu:

  • Pemeriksaan fisik. Dari hasil pemeriksaan fisik akan diketahui penyebab penebalan kulit yang terjadi.
  • Foto Rontgen. Daerah sekitar tempat kulit yang menebal akan diperiksa dengan foto Rontgen untuk melihat perubahan atau kelainan fisik yang bisa mengakibatkan mata ikan.

Pengobatan Mata Ikan

Jika penebalan kulit terdiagnosis sebagai mata ikan, maka ada beberapa langkah pengobatan yang umumnya akan diberikan pada penderita. Beberapa langkah pengobatan umum untuk mata ikan adalah:

  • Tindakan menipiskan lapisan kulit yang menebal dengan pisau. Prosedur yang dilakukan oleh dokter ini bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, serta membentuk ulang kulit yang sudah menebal karena gesekan berlebihan.
  • Obat-obatan penghilang mata ikan dan kapalan. Beberapa obat-obatan yang dijual bebas dalam bentuk krim atau salep yang mengandung asam salisilat dapat melunakkan dan mengangkat kulit yang mati. Perlu diingat, orang dengan penyakit arteri perifer, diabetes, dan neuropati perifer sebaiknya menghindari pemakaian asam salisilat karena malah akan merusak kulit atau bahkan saraf.
  • Menggunakan bantalan sepatu yang disesuaikan dengan bentuk kaki penderita.
  • Operasi. Dokter dapat merekomendasikan operasi untuk memperbaiki posisi tulang yang mengakibatkan terjadinya gesekan. Namun tindakan ini jarang dilakukan.

Pencegahan Mata Ikan

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya mata ikan, yaitu:

  • Memakai sepatu yang nyaman dan dengan ukuran yang sesuai.
  • Membeli sepatu pada saat siang hari ketika kaki berada dalam ukuran terlebar.
  • Mengoleskan krim pelembap khusus kaki.
  • Mengenakan sarung tangan atau kaus kaki agar bagian tubuh dapat terhindar dari gesekan.


Penyakit Mata Ikan di Kaki, Penyakit Kulit Tak Boleh di Anggap Remeh! 3

Care, Correct, Professional




Penyakit Mata Ikan di Kaki, Penyakit Kulit Tak Boleh di Anggap Remeh! 3

Care, Correct, Professional